Cerita Rakyat Nusantara dari Banten, Legenda Ki Pande Gelang dan Putri Cadasari

Pria tua itu biasa dipanggil Ki Pande. Nama aslinya adalah Pande Gelang karena ia adalah ahli pembuat gelang. Suatu hari, Ki Pande melintas di sebuah kebun manggis. Tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis seorang wanita. Ki Pande mencari asal-usul suara itu dan dilihatnya seorang putri cantik yang sedang menangis sedih. "Maaf Putri, mengapa bersedih? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Ki Pande.

"Pak tua, siapa kau? Percuma saja aku ceritakan masalahku padamu, kau tak akan bisa membantuku," jawab sang Putri.

"Nama saya Pande Gelang, saya pembuat gelang. Jika Tuan Putri percaya pada saya, ceritakan apa masalahmu. Sebisa mungkin akan saya bantu," kata Ki Pande panjang Iebar. Putri itu menghela napas, "Aku tak tahu harus mulai dari mana Ki. Namaku Putri Arum, aku menangis karena aku akan dinikahi oleh Pangeran Cunihin dari negeri seberang."



"Pangeran Cunihin? Bukankah ia pemuda yang tampan dan sakti? Mengapa Putri khawatir?" tanya Ki Pande.

"Meskipun tampan, Pangeran Cunihin berwatak culas dan licik. Itulah yang membuatku enggan menikah dengannya. Namun jika aku menolak, rakyatku pasti akan dibinasakan," jawab Putri Arum.

Ki Pande berpikir sejenak, lalu menjawab, "Putri Arum, sepertinya Putri harus menerima lamaran Pangeran Cunihin."

"Tapi aku tak bisa, Ki. Aku tak suka padanya," jawab Putri Arum cepat.

"Saya akan berusaha menolong Putri nanti. Terimalah Iamarannya, tapi mintalah ia untuk melubangi sebongkah batu keramat. Lubang itu harus cukup besar agar bisa dilewati manusia. Mintalah ia untuk meletakkan batu keramat itu di pesisir pantai. Beri waktu tiga hari padanya untuk menyelesaikan pekerjaan itu," jelas Ki Pande.

Putri Arum heran dengan syarat yang diajukan Ki Pande. Namun ia tak punya pilihan lain, ia harus percaya pada Ki Pande. Ia yakin Ki Pande adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk membantunya. Ki Pande mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya. Ia meminta Putri Arum membawa karungnya yang berisi alat-alat membuat gelang.

Karena kelelahan, Putri Arum pingsan dalam perjalanan. Untunglah rumah Ki Pande sudah dekat. Dibantu oleh penduduk desa, Ki Pande membopong Putri Arum sampai ke rumahnya. Atas saran seorang tetua desa, Ki Pande memberikan air yang bersumber dari sebuah batu cadas untuk diminum putri tersebut. Ajaib, Putri Arum Iangsung siuman dan sehat kembali. Sejak itu, penduduk desa memanggil Putri Arum dengan Putri Cadasari. Ki Pande don Putri Cadasari tinggal sementara di desa itu sebelum kembali ke istana.

Ki Pande menyusun rencana dan membuat sebuah gelang raksasa, ukurannya cukup untuk dilalui manusia. Ki Pande berkata, "Gelang ini akan kupasang pada lubang yang dibuat oleh Pangeran Cunihin di batu keramat itu." Ki Pande kemudian menceritakan rencananya pada Putri Cadasari. Setelah gelang itu selesai, Putri Cadasari kembali ke istananya.

Pangeran Cunihin tergelak ketika mendengar syarat yang diajukan oleh Putri Cadasari. "Tenang Sayang, aku bisa melubangi batu keramat hanya dalam waktu sehari. Kau tak perlu memberiku waktu sampai tiga hari," katanya sombong. "Tapi, bisakah kau jelaskan mengapa kau ingin melubangi batu sebesar itu?" tanyanya penasaran. Putri Cadasari terkejut, tapi dengan cepat ia menjawab, "Aku ingin duduk-duduk bersamamu di pantai. Melihat Matahari terbenam pasti sangat mengasyikkan." Pangeran Cunihin senang mendengar jawaban itu. Lalu, ia bergegas mencari batu keramat untuk memenuhi syarat tersebut.

Keesokan harinya, lubang itu jadi. Dengan kesaktian Pangeran Cunihin, itu adalah perkara yang mudah baginya. Ia membawa batu itu ke pesisir pantai seperti yang diminta oleh Putri Cadasari. Tanpa sepengetahuannya, Putri Cadasari dan Ki Pande diam-diam mengikutinya. Ki Pande membawa gelang raksasa yang telah ia siapkan. "Ha... ha... Putri Cadasari kini telah menjadi milikku," tawanya puas. Lalu ia pergi menemui Putri Cadasari.

Sepeninggal Pangeran Cunihin, Ki Pande berlari menuju batu keramat itu. Dengan cepat ia memasangkan gelang raksasanya pada lubang yang dibuat oleh Pangeran Cunihin. Ukurannya pas, gelang itu terpasang dengan sempurna. Sial bagi Ki Pande, ternyata Pangeran Cunihin kembali bersama Putri Cadasari. Tiba-tiba saja mereka sudah berada di belakang Ki Pande. "Hei kau, kau lagi, kau lagi. Kau tak bisa menerima kekalahan, ya?" bentaknya pada Ki Pande. Putri Cadasari terkejut, mengapa Pangeran Cunihin berkata seperti itu? Sepertinya Pangeran Cunihin dan Ki Pande telah saling kenal.

Pangeran Cunihin tak memedulikan Ki Pande. Dengan bangga ia memamerkan hasil kerjanya pada Putri Cadasari. "Lihatlah, apa yang kau minta sudah kupenuhi."

Putri Cadasari berusaha bersikap tenang. "Benarkah lubang ini cukup untuk dilalui manusia? Apalagi tubuhmu tinggi besar," tanya Putri Cadasari.

"Ha... ha... tentu saja cukup. Kalau kau tak percaya, aku akan melewati batu ini," jawab Pangeran Cunihin.

Sambil berkata demikian, Pangeran Cunihin melangkah dan melewati lubang yang dibuatnya sendiri.

Begitu kedua kakinya melewati lubang itu, Pangeran Cunihin berteriak kesakitan. "Aduh... tolong... apa yang terjadi padaku?" teriaknya. Bersamaan dengan teriakannya itu, tubuh Pangeran Cunihin Iangsung lemas. Ia berubah menjadi kakek tua tanpa daya. Sebaliknya, Ki Pande berubah menjadi pemuda yang gagah rupawan. Putri Cadasari kebingungan. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.

"Semua ini adalah akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Sebenarnya ia adalah saudara seperguruanku. Namun setelah ia menguasai semua ilmu dari guru kami, ia mencuri semua ilmu dan kesaktianku juga. Lalu mengutukku menjadi pria tua" jawab Ki Pande panjang lebar.

"Lalu, mengapa keadaaanya terbalik sekarang?" tanya Putri Cadasari masih tak mengerti.

"Aku bertapa dan mendapat jawaban dari Tuhan bahwa kutukan ini bisa hilang jika Pangeran Cunihin melewati gelang buatanku."

Sekarang semuanya sudah jelas. Putri Cadasari berterima kasih pada Ki Pande yang sebenarnya adalah seorang pangeran. Ki Pande juga berterima kasih pada Putri Cadasari. Mereka berdua meninggalkan Pangeran Cunihin. Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari akhirnya menikah dan hidup bahagia.


Pesan moral :
Untuk mencapai suatu keinginan, diperlukan usaha dan kerja keras. Jangan lupa untuk selalu berdoa, karena Tuhan pasti akan membantu.

Stop Komentar SPAM
Berkomentarlah dengan Sopan
Salam Anak Bangsa
EmoticonEmoticon