Asal Usul Penggunaan Kata Kartun Sebagai Gambar yang Bersifat Lucu dan Menghibur

Jika mendengar kata “kartun” atau “Cartoon”, biasanya di dalam kepala kita muncul gambar lucu yang dilukiskan dengan garis – garis yang sederhana. Dengan melihat gambar tersebut, kita berharap akan tertawa geli atau minimal tersenyum rileks.

Namun jika kita sejenak menoleh ke belakang dan mengamati jejak – jejak kartun, maka akan kita temukan sesuatu yang sedikit berbeda dari pemahaman kita saat ini.

Dalam artikel ini kita akan membahas pengertian dan asal – usul kata kartun.


Kartun sebagai gambar setengah jadi

Pada awalnya pengertian kartun ialah sebuah gambar hampir jadi yang dibuat oleh seniman pada selembar kertas yang kaku untuk digunakan sebagai pola pada pembuatan fresco, permadani dan sebagainya.

Sang seniman dengan menggunakan jarum atau sejenisnya kemudian membuat sederetan lubang pada setiap garis pada gambar kartun tersebut dan kemudian dengan menjiplaknya pada tembok basah untuk pembuat fresco atau pada lembar kain yang hendak dibuat menjadi permadani.

Berikut adalah contoh kartun dari fresco karya Rafael yang berjudul sekolah athena yang dibuat kurang lebih tahun 1510.




Kartun sebagai gambar yang bersifat menyindir

Gambar sindiran tertua yang tercatat hingga saat ini adalah sebuah gambar yang dibuat kurang lebih tahun pada 1499 dengan judul Le Revers du Jeu des Suysses.

Gambar tersebut melukiskan sekelompok orang yang dianalogikan sebagai pemimpin negara dan pemimpin agama sedang berkumpul untuk bermain kartu pada sebuah meja, namun ternyata dalam permainan tersebut salah seorang pemain berbuat curang dengan cara menyembunyikan sebagian kartu di bawah meja.

Pada tahun 1843 pemerintah Inggris mengadakan sebuah lomba kartun (Dalam pengertian sebagai gambar setengah jadi) yang nantinya hendak digunakan sebagai panduan dalam pembuatan fresco bagi dinding gedung parlemen yang baru.

Sebuah majalah parody yang beredar di Inggris saat itu, yaitu majalah Punch lewat senimannya John Leech mempublikasikan sebuah gambar yang disebutnya sebagai cartoon no 1 dengan judul Substance and Shadow.


Gambar tersebut menggambarkan sebuah pameran kartun (Dalam arti sebagai gambar setengah jadi) yang dihadiri oleh sejumlah pengunjung. Ironisnya pengunjung yang hadir adalah sekelompok orang yang berpakaian compang – camping dengan wajah memelas.

Gambar ini dimaksudkan sebagai sindiran pada pemerintah Inggris saat itu yang dianggapnya tidak peka terhadap kondisi masyarakatnya yang masih kekurangan.

Selanjutnya Punch mempublikasikan 5 gambar lain dengan sebutan Cartoon no 2, 3, 4, 5, dan 6.

Semenjak itu kata Kartun (Cartoon) mendapat pengertian baru sebagai gambar yang bersifat menyindir dan mengolok – olok. Sebelumnya gambar – gambar semacam itu disebut dengan berbagai istilah seperti Hierogliphic, Mad Design, Caricature, Pencillings , dan sebagainya.


Kartun sebagai gambar yang bersifat lucu dan menghibur

Tahun 1925 majalah The New Yorker mempopulerkan jenis kartun 1 panel yang bersifat lucu dan tidak terkait dengan keadaan sosial politik.


Sedikit berbeda dengan gambar – gambar kartun sebelumnya yang menuntut ketrampilan menggambar yang tinggi, kartun The New Yorker ini lebih menekankan pada isi, sehingga tak jarang ditemui gambar– gambarnya terkesan sederhana dan asal– asalan.

Berikut contoh kartun ala The New Yorker karya Charles Addams.


Seiring berjalannya waktu istilah kartun kembali mengalami beberapa penyesuaian. Sesuai dengan isi pesan yang hendak disampaikan.

Kartun model Punch yang bersifat menyindir dan mengkritik untuk selanjutnya dikategorikan sebagai Political / Social Cartoon atau sering juga disebut sebagai Editorial Cartoon. Sedangkan kartun ala The New Yorker yang semata – mata hanya bersifat melucu dikategorikan sebagai Gag Cartoon.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan inspirasi!

Stop Komentar SPAM
Berkomentarlah dengan Sopan
Salam Anak Bangsa
EmoticonEmoticon